Rabu, 26 November 2025

Tidak Semua Cerita Layak Didengar Orang Lain—Termasuk Ceritamu.


Saya menyadari, dalam hidup setiap orang pasti mempunyai jalan cerita hidupnya masing-masing. Rasanya kita tidak bisa menafikkan bahwa hidup kita tidak akan selalu baik-baik saja. Adakalanya beban pikiran, penat, sedih, kecewa dan emosi yang tidak membahagiakan itu hadir tanpa aba-aba. Banyak dari kita memilih untuk bercerita ke beberapa orang dengan dalih ingin mengeluarkan uneg-uneg atau beban pikiran supaya lebih lega katanya. Namun, tidak sedikit juga yang memilih bahwa tidak semua beban harus ditumpahkan kepada orang lain. Ada kalanya kita justru perlu belajar menata hati tanpa melibatkan terlalu banyak telinga. Dan saya termasuk orang dengan pilihan kedua. 

Kenapa?

Saya menyadari bahwa Allah tidak akan memberi ujian melebihi batas kemampuan hambaNya. Kedua, saya yakin ujian ini ada batas waktunya. Dan Allah hanya ingin melihat bagaimana hambanya menyelesaikan ujian yang Ia berikan. Dengan bermodal mindset ini saya lebih mudah mengendalikan pikiran saya dan bisa mencari solusi dengan tenang, tentu dengan bimbingan dari sang pencipta. 

Dan ada beberapa point lainnya yang saya pikir-pikir, keputusan untuk tidak bercerita kesembarang orang adalah keputusan yang tidak salah jalan.

Terlalu Banyak Curhat = Memupuk Masalah Baru

Semakin banyak orang yang kita curhati, semakin banyak pula versi masalah yang kita bangun. Kita jadi lebih sering membicarakan masalah daripada berusaha melupakannya. Padahal, masalah itu seperti luka, semakin sering diutak-atik, semakin lama sembuhnya. Bukan berarti kita tidakk boleh meminta bantuan, tapi bantuan itu tidak sama dengan membicarakan hal yang sama ke banyak orang.

Carilah Nasihat, Bukan Pembenaran

Curhat pada orang yang tepat bisa jadi solusi, namun curhat kepada sembarang orang seringkali hanya menjadi tempat mencari pembenaran. Kita ingin didukung, bukan diarahkan. Padahal yang kita butuhkan bukan “iya kamu benar,” tapi seseorang yang bijak, amanah, dan punya kapasitas memberi pandangan.

Mewaspadai Oversharing

Keputusan bahwa saya memilih tidak curhat kepada sembarang orang atau ke beberapa orang adalah saya merasakan perasaan yang tidak nyaman setelah curhat, perasaan bersalah karena terkadang bisa jadi kita sudah melebihi dari tema curhat - oversharing. Dalam momen emosi atau tekanan, kita bisa saja membuka hal yang seharusnya tidak keluar dari mulut. Privasi diri sendiri, privasi keluarga, atau bahkan aib orang lain. Atau lebih buruknya, cerita itu bisa berpindah ke telinga lain. Hal-hal seperti ini yang tidka bisa kendalikan dan berpotensi menambah masalah baru muncul.

Daripada curhat ke sembarang orang, kiranya berikut solusi buat kalian yang ingin menaruh beban pikiran dengan aman:

  • Curhatlah kepada Allah, karena Dia Maha Pendengar dan Maha Menjaga rahasia.
  • Curhatlah melalui doa, tulisan, atau muhasabah diri. 
  • Jika butuh manusia, carilah satu orang yang amanah, bijak, dan bisa mengarahkan, bukan sekadar mengiyakan.
  • Dan sekarang ada chat GPT yang membantu sekedar berkonsultasi menguraikan benang yang kusut dipikiran. 

Curhat asal-asalan sering hanya membuat hati semakin keruh. Maka berhentilah bercerita kepada orang yang tidak tepat, apalagi demi alasan ingin melepaskan emosi sesaat.

Kadang, diam lebih menyelamatkan.
Kadang, menahan cerita membuat kita lebih bijaksana.
Dan sering kali justru dari diam, Allah bukakan jalan keluar.


With love,

Ratna

Sabtu, 22 November 2025

Akhirnya nge-Blog Lagi, Rumah yang Selalu Memanggil.



Bagiku, menulis lagi seperti bertemu kembali sahabat yang lama tidak bersua, rasanya aku ingin berbincang tentang banyak hal yang luput selama kita tidak pernah sapa. Dan blog ini, layaknya rumah yang lama aku tinggal sejak dua ribu sembilan belas. Sekarang balik lagi karena rindu. Iya aku kangen ngobrol intens sama diri sendiri.

Dulu, aku menulis karena suka tanpa dipaksa – mengalir begitu saja, dari mulai menulis puisi, cerpen, opini, juga diary. Dari yang menulis di kertas binder hingga bertransformasi menulis di sosial media seperti facebook, instagram dan blog. Berlanjut menantang diri untuk ikut lomba menulis, ikut komunitas kepenulisan, dan ikut pelatihan menulis.

Waktu di sekolah menengah petama, aku bikin diary harian bareng temenku di buku tulis yang sama, kalau tidak salah ingat aku bawa bukunya seminggu, nanti minggu berikutnya giliran dia yang bawa. Curhat aja di situ, temanya bebas, dari urusan sekolah, lagi demen siapa sama urusan keluarga. Di masa itu juga, lagi booming buku binder, aku termasuk yang punya binder sendiri yang isinya koleksi kertas binder lucu, kumpulan puisi, dan curhatan. Di masa sekolah menengah atas, aku pernah bikin cerpen, aku cetak sendiri, aku baca sendiri, dan aku simpan di lemari. Definisi menulis dari diri sendiri dan untuk diri sendiri - haha. Waktu kuliah udah ganti media, aku mulai suka menulis di sosial media, waktu itu zamannya facebook, udah mulai bikin blog dan ikut lomba nulis. Selepas kuliah dan masuk dunia kerja aku masih nge blog, sempat menulis buku antologi 2 kali. Itu titik awal aku menyadari bahwa menulis adalah minatku. Aku merasa antusias dan semangat ketika ada topik baru yang perlu aku tuangkan dalam bentuk tulisan.

Sampai akhirnya aku menikah, sosial mediaku dan blog-ku menjadi proyek mangkrak. Waktu itu - mungkin - aku merasa insecure dalam hidup. Aku merasa, hidupku hanya berputar pada poros yang sama setiap harinya. Dimulai pada jam yang sama, diakhiri pada jam yang sama pula. Aku juga merasa, tidak ada ambisi tertentu dalam hidupku yang membuatku bisa merasa perlu mencapai sesuatu. Aku semakin merasa tertinggal jauh dari teman-teman yang berkarir. I'm nothing. Mindset seperti inilah yang sering membunuh kreatifitasku. Bahwa terkadang aku hanya perlu mencintai diri sendiri, tidak perlu membandingkan dengan yang lain.

Setelah aku ingat-ingat, alasan lain kenapa aku berhenti menulis adalah aku pun tidak pernah benar-benar konsisten dengan apa yang pernah aku mulai. Aku pernah ikut menulis tiga puluh hari tanpa henti #30dayswritingchallenge, tapi setelah selesai menulis tiga puluh hari, aku tidak konsisten menulis rutin lagi. Lalu aku pernah challenge membuat tulisan seratus hari tanpa henti di facebook, tapi berhenti di tulisan ke empat puluh delapan, karena merasa bosan di tengah jalan. Alasan yang lainnya, bisa jadi karena aku mungkin tidak menemukan kepuasan lagi di sana. Apakah aku butuh mentor dan komunitas menulis buat bisa on fire lagi?

Mindset itu bener-bener penting banget untuk membuat kita konsisten dan persisten. Pertanyaan yang dilontarkan temenku waktu itu ketika kita sedang bahas tentang niatku mau nge-blog, dia tanya "tujuan kamu nulis untuk apa?" Apakah semata-mata ingin bermanfaat untuk orang lain? atau karena ingin dapat income dari sini? Dan aku perlu waktu yang lumayan lama untuk bertanya kembali ke diri sendiri.

Sekarang mengingat usia sudah kepala tiga, aku merenung, berkontemplasi, dan bertanya pada diri sendiri, beneran mau menulis lagi? Kamu udah dewasa lho, bukan waktunya lagi buat coba-coba, kalau mau serius ya ditekuni bener-bener jangan kayak bocil labil.

Terus aku coba perhatikan lagi ke belakang, dan melihat diriku dari helikopter view dengan menggabungkan puzzle-puzzle perjalananku di dunia tulis menulis. Tentang potensi yang manusia ini punya. Kamu tu berpotensi untuk bisa menekuni dunia tulis menulis, perihal tulisan kamu enak dibaca atau engga itu bisa diasah, perihal tulisanmu itu bisa menghasilkan duit atau engga itu bisa diusahakan.

Sekarang fokuslah menulis karena hal-hal sederhana berikut:

  • Menulis menjadi wujud kamu bersyukur dan mencintai diri sendiri karena Allah telah berikan nikmat berupa otak yang masih mampu berpikir, tangan yang masih bisa mengetik. Gunakan untuk berkarya.
  • Mempertajam pemikiran, supaya kamu tidak mudah pikun. Menata ulang pikiran yang tadinya berantakan dan menguatkan ingatan. Biarkan otak bekerja secara aktif, jangan biarkan otak hanya menerima informasi, biarkan dia mencerna - memikirkan, mempertanyakan, lalu memahami.
  • Jadikan pengalaman hidup kamu menjadi hikmah, mengambil pelajaran dari apa yang ada di sekitar kamu.
  • Manfaatkan waktu luang dengan cara yang bijak, menulis salah satu contohnya.
  • Kamu punya kekurangan ketika berbicara - sering belibet, suka lupa istilah di tengah jalan cerita. Jadi menulislah supaya bisa memperbaiki pola pikir lebih runtut dan teratur saat bercerita.

Mungkin kamu berpikir, siapa yang mau baca? karena kamu terbiasa dengan feedback sebagai tolak ukur kepuasanmu. Eits ga usah mikir dulu ke sana, menulislah karena kamu suka dan kamu mau. Katanya tulisan setiap orang itu akan menemukan pembacanya sendiri.

Apalagi sekarang kamu seorang guru, kamu punya tugas tidak hanya menyampaikan mata pelajaran yang kamu ampu. Tapi juga nilai-nilai kehidupan yang bermanfaat buat mereka. Gimana caranya? Ya kamu bisa memulai dengan menulis, menulis yang bermanfaat, self development misalnya. Sampaikan apa yang kamu tulis ke murid-murid kamu sebagai bahan dakwah kamu secara nyata. Sampaikan walau satu ayat, sampaikan walau cuma hal sederhana. Kadang yang sederhana itu bisa mengena.

So, mulai aja dulu, mulai aja lagi dan bertahanlah sampai Allah ambil semua yang kamu punya. Gunakan waktu mudamu, waktu sehatmu dan waktu luangmu dengan bijaksanan, jangan menyesali karena ia tidak pernah kembali.


Sending kindness,
Ratna


Senin, 25 November 2019

Pembelajaran Pendahuluan Buku Rich Dad Poor Dad

Robert Kiyosaki, namanya sudah tak asing di telinga semenjak beberapa tahun silam, sepengetahuanku beliau adalah pebisnis hebat. Itu saja.
Namun beberapa hari ini buku fenomenalnya telah aku baca lebih dari setengah halaman buku: Rich Dad Poor Dad dalam terjemahan bahasa Indonesia.
Buku yang telah dinobatkan buku bisnis terlaris ini, dicetak sejak Oktober 2000 hingga Juni 2019, dan telah memasuki cetakan ke 50. Saya tidak tahu berapa banyak buku yang telah sampai ke tangan pembaca, yang jelas Saya ingin menikmati buku ini dan ingin mendapatkan sebuah pencerahan.

Saat membaca judul cover dan tag linenya, Saya dibuat antusias untuk membuka halaman per halamannya. Judul yang ditulis dengan huruf kapital RICH DAD POOR DAD, dengan tag line Apa yang Diajarakan Orang Kaya Kepada Anak-Anak Mereka tentang Uang - Yang tidak Diajarkan oleh Orang Miskin dan Kelas Menengah, seolah akan menjawab pertanyaan yang sering menghinggapi otak bawah sadar Saya tentang Gimana sih Orang Kaya mendapatkan kekayaan mereka. Tiba-tiba terbersit di kepala Saya menyimpulkan dengan semena-mena "Bener aja anak orang kaya terus kaya, lha Dia dapat mentor langsung dari Orang tuanya yang sudah Kaya". Sekilas pernyataan ini muncul lalu sirna, ketika quote dari Bill Gates melintas, dan mematahkan semuanya.
" Jika anda terlahir dalam kemiskinan itu bukanlah kesalahan anda, tapi jika anda mati dalam kemiskinan itu adalah kesalahan anda. " Bill Gates
Jika Orang tuaku tidak mampu mengajari bagaimana Kaya setidaknya, Anak-anaku harus belajar dari Orang tuanya.

Buku Rich Dad, Poor Dad


Pada Bab Pendahuluan: Ayah Kaya, Ayah Miskin, Robert menceritakan bahwa beliau mempunyai dua Ayah yang mempunyai sudut pandang yang berbeda: sudut pandang orang kaya dan sudut pandang orang miskin. Yang selanjutnya istilah Ayah Kaya, Ayah miskin ini ternyata hanya istilah.
Ayah Miskinnya tidak benar-benar miskin seperti apa yang Saya fikirkan. Pada kenyataannya Ayah miskinnya bergelar Ph.D, dan menamatkan dua tahun kuliah yang harusnya ditempuh dalam waktu empat tahun. Selanjutnya Ayahnya melanjutkan studi ke Standford University, University of Chicago, dan Northwestern University. Sedangkan Ayah Kaya versinya, Beliau tidak pernah menyelesaikan pendidikan SMP. Sebuah pembukaan yang menarik bukan?

Kedua Ayahnya sama-sama berhasil dalam kariernya, mereke memperoleh penghasilan yang besar. Diakhir hidup mereka, Ayah Kayanya meninggalkan puluhan juta dolar bagi keluarga dan amal kemanusiaan, Beliau juga dinobatkan menjadi orang terkaya di Hawaii. sedangkan Ayah miskinnya meninggalkan banyak hutang.

Kedua orang tuanya sering menasehati Robert tentang hal keuangan, namun keduanya mempunyai pandangan yang sangat berbeda tentang uang.


NoAyah MiskinAyah Kaya
1Cinta akan uang adalah akar segala kejahatan.Kekurangan uang adalah akar segala kejahatan.
"Teruslah bersekolah dan belajar yang giat." sang anak mungkin akan lulus dengan peringkat terbaik, namun dengan sikap mental dan pemikiran keuangan oarang miskin. Karena sekolah berfokus pada ketrampilan akademis & profesional, bukan keuangan.
2"Saya tidak mampu beli". Pernyataan ini membuat otak berhenti bekerja."Bagaimana Saya membelinya?" pertanyaan ini melatih otaknya untuk selalu berkerja

3Belajarlah yg giat agar kamu bisa menemukan perusahaan yang bagus sebagai tempat bekerjaBelajarlah yg giat agar kamu bisa menemukan perusahaan yg bagus untuk kamu beli.
4Alasan saya tidak kaya adalah karena Ayah memilikimu Nak.Alasan saya harus kaya adalah karena memilikimu Nak.
5Melarang topik uang dibahs di meja makan.Mendorong obrolan tentang uang dan bisnis di meja makan.
6Dalam hal uang, bermainlah aman.Belajarlah mengambil resiko
7Rumah adalah aset terbesar kitaRumah adalah liabilitas
8Bergantung pada perusahan dan pemerintah. menaruh perhatian pada kenaikan gaji, program pensiun, tunjangan kesehatan, cuti sakit, hari libur.percaya penuh pada sikap mandiri.
9Bekerja untuk menabungBekerja untuk investasi
10Mengajarkan buat cv yg mengesankan untuk mendaftr ke perusahaanMengajari menulis rencana bisnis dan keunagan kuat agar bisa menciptakan pekerjaan.
11mindset: saya tidak pernah kaya.mindset: saya orang yg kaya. bahkan ketika bangkrut dia menganggap dia kaya. dia mengatakan "bangkrut itu sementara, miskin itu selamanya."
12saya tidak tertarik dengan uanguang adalah kekuatan, kekuasaan

Kedua belas point di atas adalah nasehat yang kontras dari Ayah Kaya dan Ayah Miskin Robert, hingga pada usia sembilan tahun Beliau memutuskan untuk mendengarkan dan belajar dari Ayah Kaya tentang Uang.

Rasanya tidak lengkap jika hanya membaca resum ini, maka bacalah keseluruhan isi dari buku RICH DAD, POOR DAD.

Semoga bermanfaat..


Rabu, 06 Juni 2018

Menjadi Mertua yang Baik hati

👨Eh, tu ngga salah judul?
Bukannya "menjadi menantu yang baik?"
👩 Bukan.
.
ngga terasa sudah 10 Bulan menikah, Status kependudukan juga sudah diubah. Rumah tinggal sekarang bukan lagi rumah dulu yang menjadi saksi bisu tumbuh berkembangnya diri, 23 tahun lamanya.

Tapi dalam 10 bulan ini, Saya belajar banyak dari keluarga baru.
Kepada Baliau, Bapak Ibu mertua tercinta.
Belajar bagaimana menjadi seorang pasangan hidup yang berjuang bersama, orang tua yang sabar, juga seorang Kakek dan Nenek dari cucu-cucunya.

Dalam keseharian yang hampir 24 jam Kita berada di satu atap yang sama, Saya cukup tau detail kesibukan mereka sehari-hari.

Mulai dari bangun pagi sampai mata terpejam mengusir lelah seharian.

Bapak seorang penjahit yang super sibuk bergelut dengan kain, gunting, dan serentetan alat menjahit lainnya dan 3 orang karyawannya, dan Ibu mempunyai toko baju yang sudah dirintintis beliau sejak ketiga anaknya masih kecil.

Kesuksesan atas kerja keras mereka tercermin dari keseharian mereka yang disiplin membagi waktu. Kalau dilihat sudah serba otomatis.

Bangun pagi sebelum subuh, dilanjutkan dengan berjamaah subuh di masjid.
Selesai berjamaah lalu kembali ke rumah, mereka akan melanjutkan beberes rumah.
Bapak menyapu, membuang sampah, mencuci baju(pakai mesin cuci), membersihkan kamar mandi di lantai satu, dan masih sepagi itu bapak sudah menyapa para calon baju dan celana di ruang kerjanya ditemani suara khas mesin jahit, dan radio kesayangan.
Ibu bertugas mencuci piring dan beberes urusan dapur, menyempatkan mendengar ceramah di stasiun televisi swasta setiap pagi, membuatkan Sarapan, juga membuka toko.

Kemudian mereka beberes diri, mandi, sholat dan bergegas kembali ke rutinitas tempat mereka mencari nafkah selama ini. Di rumah tercinta.

Diakhir malam, mereka akan menyeleseikan rutinitas mereka, dengan makan malam bersama di lantai dua. Bersamaku dan Mas Niam.

Saya tahu, usia pernikahan mereka diatas 30 an tahun, mengingat anak pertama(Mas Tyar) sudah di usia kepala tiga.
Tidak mudah pasti mempertahankan usia pernikahan yang selama ini.
Kesetian, kerjasama mengelola usaha dan keluarga adalah dua hal yang selalu Saya kagumi.

Saya belajar dari Bapak arti menjadi partner pasanhan hidup yang baik di segala urusan, untuk urusan rumah yang biasa dihandle seorang istripun bapak mau terjun langsung.
Tanpa mengeluh.
Disuatu kondisi tertentu, seperti ketika melihat sesuatu yang tidak beres, atau ada keganjalan di hati, bapak selalu memilih timing yang pas untuk berbicara atau menyeleseikan di forum dengan pilihan kata yang tidak menyinggung perasaan.
Beliau adalah kepala rumah tangga yang baik.
Belajar arti pengertian dan keikhlasan.

Dan ibu adalah seorang pekerja giat. Ibu pernah bercerita usahanya membuka toko Beliau mulai dari nol. Mulai dulu buka warung sembako, jual eskrim, sampai mulai nyetok baju sekolah sedikit demi sedikit.
Hingga sekarang, tokonya menjadi primadona orang-orang kalau mencari baju sekolah, baju untuk lebaran dan kebutuhan sandang sehari-hari.
Buah dari kerja keras ibu.

Dari urusan toko yang sering sibuk, ibuk juga tak bisa meninggalkan urusan keluarga, seperti memasak untuk sarapan, makan siang dan makan malam.
Saya tahu telahnya beliau, lelah sekali pasti.
Disisi lain, beliau memiliki jiwa tangguh, ngga mudah sakit hati walau sering disakiti.
Beliau pernah bilang "semua dibaikin aja, sabar. Nanti bakal beruntung". Kata-kata yang menghujam. Mengingat beliau tak hanya bertutur lewat kata, tapi juga realita sebagai bukti nyata akan kata.

Kepada cucu-cucu mereka, Mereka sangat sayang dan perhatian.
Ibuk dan bapak, akan dengan sabar menjaga keempat cucu-cucu nya. Terutama Zola cucu keempat saat ini, yang selalu berada dirumah.
Dua cucu laki-laki dari kakak ipar pertama.
Dua cucu perempuan dari kakak ipar kedua.
Dan aku, masih on going. Hehe.

Saya pun merasa nyaman tinggal disini.
Merasa dianggap anak sendiri, bahkan Saya mendapatkan lebih dari hanya sebuah perhatian.
Materipun demikian.

Semoga sehat selalu ya Bapak Ibu, doakan Kami yang berusaha menjemput rezeki berupa momongan yang selalu Bapak Ibu tunggu-tunggu.
Terima kasih sudah memperkenalkan dunia kebaikan lewat teladan.
Saya akan banyak belajar dari semua hal yang tersirat.
Hingga menjadi seorang menantu yang baik.

Jumat, 26 Januari 2018

Pengalaman Kerja Intership Pertamina 2015

Assalamu'alaikum, semoga kebahagiaan sealu hadir  buat kalian yang lagi baca artikel ini..
Lagi cari tahu Informasi tentang Internship Pertamina ya..😄

Banyak dari temen-temen yang tanya ke Saya, sebenernya ngapain aja si kerjaannya.
Ohya, baca dulu Berbagi kisah: Perjalanan Internship Pertamina 2015 kalau belum sempat baca..
Jadi tulisan ini, melanjutkan cerita dua tahun lalu ketika saya di terima Interensip..

Alhamdulillah arsip masih ada, jadi mubadzir kalau cuma disimpen takut mubadzir.

OK, sebelumnya Saya pengen kasih tahu kalau latar belakang Saya dari lulusan Teknik Informatika.
Jadi yang pasti Saya ditempatkan di fungsi IT, yaitu ITSM (IT Service Management) bagian ngurusin pelayanan IT, dan Saya kebagian belajar CMDB(Configuration Management Database).Baru denger juga? Toss, kalau senasib Kita. Hahaha.

Saya tidak akan menjelaskan lebih detail apa itu ITSM dan CMDB. Saya hanya akan kasih liat  workplan dan progress yang harus dikerjakan selama 6 bulan magang. Ini hal yang pertama kali harus Kita kerjakan bersama Supervisor.

Berikut ini Workplan Saya selama  bulan,

Workplan

Selanjutnya absen harian yang akan Kita laporkan setiap bulannya, printoutnya seperti ini


Dan terakhir Laporan progress yang telah dicapai dari workplan setiap triwulan(3 bulan sekali):
Yah begitu sekelumit cerita pengalaman kerja di Pertamina.
Semoga bermanfaat ya...

Ada yang mau ditanyakan lagi selain pengalaman kerja?
tinggalkan komentar di kolom ya😃

Sukses buat kalian semuaa..

Minggu, 27 November 2016

Love Kids

Siapa yang tidak suka anak-anak?
//Yuuk cungg
Jika Anda adalah salah satu yang akan mengangkat jari mungkin tinggi-tinggi.Maaf, so poor you are!:D

Why-why-why and why?

They're adorable, aren't? So free and fun.

Tidak kah anda tahu sebuah keceriaan tanpa dikomando akan muncul dari benak setiap manusia, ketika ia melihat seorang anak, atau mungkin banyak anaak. Wuaaa, love kids.

Pemikiran dan tindakan tiba-tiba |
Muka bingung ketika ditanya |
Kelakuan aneh, sehabis nonton video (karena sukanya niru2)|
Mengomentari sesuatu menurut imaginasi |
atau suatu tindakan kecil dari mereka yang menurut anda so sweet

|| Tante, tante, nanti adiku kalau udah lahir. Aku kasih nama Bumble bee.XD

Dan anda tahu..
Saat ini saya sedang mempersiapkan bekal menjadi seorang ibu? || What's?

When're you to be wife?

|| keep calm :D

Saya menikmati aktivitas ini. Dan sedang mengadakan penelitian.
How to:
mengganti popok | menggendong bayi | menenangkan bayi | menidurkan bayi | berbicara kepada bayi |
management waktu antara pekerjaan rumah, dapur, dan kasur (waks) :D. Jangan terlihat aneh setelah baca kasur. It means When you must take a sleep.

Anak siapa weh??

I have so many kids from borrowing. haha

Belajar dari seorang ibu muda dengan status keibuannya. Dengan 1 anak usia 2.5 tahun dan 2 anak kembar usia 2 bulan. With no nany. || So awesome.

Melihat dan belajar dari kesehariannya:
mulai dari bangun pagi hingga muncul pagi lagi.

Mengelola waktu kapan harus memasak, menyiapkan hidangan untuk suami dan anak
bergantian mengganti popok dan asi, dalam hitungan menit
menjaga rumah agar tetap bersih dan rapi
Belum memberikan waktu untuk anak sulung dengan celotehannya, dan bercerita. juga menjawab pertanyaan lugunya.

Waw, so busy.

satu hal yang akan membuatnya kuat, lakukan semua dengan happy, dan penuh tanggungjawab. and one more Jangan Panik.

Mrs  Zuli || my inspirator mom.
Saudara sekaligus teman berbagi.






Rabu, 23 November 2016

Ingin memelukmu, itu saja.


Tidak bisa dipungkiri, bahwa hati ini rindu.
Sejak kepergianmu 5 Juni 2016 lalu.
Bibirku memaksa untuk tersenyum bersama airmata.

Aku ini kenapa?

aku merindukanmu.nasehatmu. pelukmu. Itu saja.
Semua tentang ketenangan. Dan motivasiku.

Ini bukan sesuatu yang hilang. Kamu harus sadari itu.
Hanya saja fisik itu tidak lagi bisa kau lihat.
Semua akan tetap ada dalam ingatan. Dan niatmu.
Genggam semua dengan kesabaran.
Pasti akan ada waktunya untuk bertemu.

Sampaikan salam dan doa untuknya ya Rabb.
Berikan Ia tempat terbaik disisimu.
Tempat terindah untuk kami berlima kembali bertemu.
Untuk memeluk bersama, karena cinta.

Aku rindu Ibu.