Rabu, 26 November 2025

Tidak Semua Cerita Layak Didengar Orang Lain—Termasuk Ceritamu.


Saya menyadari, dalam hidup setiap orang pasti mempunyai jalan cerita hidupnya masing-masing. Rasanya kita tidak bisa menafikkan bahwa hidup kita tidak akan selalu baik-baik saja. Adakalanya beban pikiran, penat, sedih, kecewa dan emosi yang tidak membahagiakan itu hadir tanpa aba-aba. Banyak dari kita memilih untuk bercerita ke beberapa orang dengan dalih ingin mengeluarkan uneg-uneg atau beban pikiran supaya lebih lega katanya. Namun, tidak sedikit juga yang memilih bahwa tidak semua beban harus ditumpahkan kepada orang lain. Ada kalanya kita justru perlu belajar menata hati tanpa melibatkan terlalu banyak telinga. Dan saya termasuk orang dengan pilihan kedua. 

Kenapa?

Saya menyadari bahwa Allah tidak akan memberi ujian melebihi batas kemampuan hambaNya. Kedua, saya yakin ujian ini ada batas waktunya. Dan Allah hanya ingin melihat bagaimana hambanya menyelesaikan ujian yang Ia berikan. Dengan bermodal mindset ini saya lebih mudah mengendalikan pikiran saya dan bisa mencari solusi dengan tenang, tentu dengan bimbingan dari sang pencipta. 

Dan ada beberapa point lainnya yang saya pikir-pikir, keputusan untuk tidak bercerita kesembarang orang adalah keputusan yang tidak salah jalan.

Terlalu Banyak Curhat = Memupuk Masalah Baru

Semakin banyak orang yang kita curhati, semakin banyak pula versi masalah yang kita bangun. Kita jadi lebih sering membicarakan masalah daripada berusaha melupakannya. Padahal, masalah itu seperti luka, semakin sering diutak-atik, semakin lama sembuhnya. Bukan berarti kita tidakk boleh meminta bantuan, tapi bantuan itu tidak sama dengan membicarakan hal yang sama ke banyak orang.

Carilah Nasihat, Bukan Pembenaran

Curhat pada orang yang tepat bisa jadi solusi, namun curhat kepada sembarang orang seringkali hanya menjadi tempat mencari pembenaran. Kita ingin didukung, bukan diarahkan. Padahal yang kita butuhkan bukan “iya kamu benar,” tapi seseorang yang bijak, amanah, dan punya kapasitas memberi pandangan.

Mewaspadai Oversharing

Keputusan bahwa saya memilih tidak curhat kepada sembarang orang atau ke beberapa orang adalah saya merasakan perasaan yang tidak nyaman setelah curhat, perasaan bersalah karena terkadang bisa jadi kita sudah melebihi dari tema curhat - oversharing. Dalam momen emosi atau tekanan, kita bisa saja membuka hal yang seharusnya tidak keluar dari mulut. Privasi diri sendiri, privasi keluarga, atau bahkan aib orang lain. Atau lebih buruknya, cerita itu bisa berpindah ke telinga lain. Hal-hal seperti ini yang tidka bisa kendalikan dan berpotensi menambah masalah baru muncul.

Daripada curhat ke sembarang orang, kiranya berikut solusi buat kalian yang ingin menaruh beban pikiran dengan aman:

  • Curhatlah kepada Allah, karena Dia Maha Pendengar dan Maha Menjaga rahasia.
  • Curhatlah melalui doa, tulisan, atau muhasabah diri. 
  • Jika butuh manusia, carilah satu orang yang amanah, bijak, dan bisa mengarahkan, bukan sekadar mengiyakan.
  • Dan sekarang ada chat GPT yang membantu sekedar berkonsultasi menguraikan benang yang kusut dipikiran. 

Curhat asal-asalan sering hanya membuat hati semakin keruh. Maka berhentilah bercerita kepada orang yang tidak tepat, apalagi demi alasan ingin melepaskan emosi sesaat.

Kadang, diam lebih menyelamatkan.
Kadang, menahan cerita membuat kita lebih bijaksana.
Dan sering kali justru dari diam, Allah bukakan jalan keluar.


With love,

Ratna

Sabtu, 22 November 2025

Akhirnya nge-Blog Lagi, Rumah yang Selalu Memanggil.



Bagiku, menulis lagi seperti bertemu kembali sahabat yang lama tidak bersua, rasanya aku ingin berbincang tentang banyak hal yang luput selama kita tidak pernah sapa. Dan blog ini, layaknya rumah yang lama aku tinggal sejak dua ribu sembilan belas. Sekarang balik lagi karena rindu. Iya aku kangen ngobrol intens sama diri sendiri.

Dulu, aku menulis karena suka tanpa dipaksa – mengalir begitu saja, dari mulai menulis puisi, cerpen, opini, juga diary. Dari yang menulis di kertas binder hingga bertransformasi menulis di sosial media seperti facebook, instagram dan blog. Berlanjut menantang diri untuk ikut lomba menulis, ikut komunitas kepenulisan, dan ikut pelatihan menulis.

Waktu di sekolah menengah petama, aku bikin diary harian bareng temenku di buku tulis yang sama, kalau tidak salah ingat aku bawa bukunya seminggu, nanti minggu berikutnya giliran dia yang bawa. Curhat aja di situ, temanya bebas, dari urusan sekolah, lagi demen siapa sama urusan keluarga. Di masa itu juga, lagi booming buku binder, aku termasuk yang punya binder sendiri yang isinya koleksi kertas binder lucu, kumpulan puisi, dan curhatan. Di masa sekolah menengah atas, aku pernah bikin cerpen, aku cetak sendiri, aku baca sendiri, dan aku simpan di lemari. Definisi menulis dari diri sendiri dan untuk diri sendiri - haha. Waktu kuliah udah ganti media, aku mulai suka menulis di sosial media, waktu itu zamannya facebook, udah mulai bikin blog dan ikut lomba nulis. Selepas kuliah dan masuk dunia kerja aku masih nge blog, sempat menulis buku antologi 2 kali. Itu titik awal aku menyadari bahwa menulis adalah minatku. Aku merasa antusias dan semangat ketika ada topik baru yang perlu aku tuangkan dalam bentuk tulisan.

Sampai akhirnya aku menikah, sosial mediaku dan blog-ku menjadi proyek mangkrak. Waktu itu - mungkin - aku merasa insecure dalam hidup. Aku merasa, hidupku hanya berputar pada poros yang sama setiap harinya. Dimulai pada jam yang sama, diakhiri pada jam yang sama pula. Aku juga merasa, tidak ada ambisi tertentu dalam hidupku yang membuatku bisa merasa perlu mencapai sesuatu. Aku semakin merasa tertinggal jauh dari teman-teman yang berkarir. I'm nothing. Mindset seperti inilah yang sering membunuh kreatifitasku. Bahwa terkadang aku hanya perlu mencintai diri sendiri, tidak perlu membandingkan dengan yang lain.

Setelah aku ingat-ingat, alasan lain kenapa aku berhenti menulis adalah aku pun tidak pernah benar-benar konsisten dengan apa yang pernah aku mulai. Aku pernah ikut menulis tiga puluh hari tanpa henti #30dayswritingchallenge, tapi setelah selesai menulis tiga puluh hari, aku tidak konsisten menulis rutin lagi. Lalu aku pernah challenge membuat tulisan seratus hari tanpa henti di facebook, tapi berhenti di tulisan ke empat puluh delapan, karena merasa bosan di tengah jalan. Alasan yang lainnya, bisa jadi karena aku mungkin tidak menemukan kepuasan lagi di sana. Apakah aku butuh mentor dan komunitas menulis buat bisa on fire lagi?

Mindset itu bener-bener penting banget untuk membuat kita konsisten dan persisten. Pertanyaan yang dilontarkan temenku waktu itu ketika kita sedang bahas tentang niatku mau nge-blog, dia tanya "tujuan kamu nulis untuk apa?" Apakah semata-mata ingin bermanfaat untuk orang lain? atau karena ingin dapat income dari sini? Dan aku perlu waktu yang lumayan lama untuk bertanya kembali ke diri sendiri.

Sekarang mengingat usia sudah kepala tiga, aku merenung, berkontemplasi, dan bertanya pada diri sendiri, beneran mau menulis lagi? Kamu udah dewasa lho, bukan waktunya lagi buat coba-coba, kalau mau serius ya ditekuni bener-bener jangan kayak bocil labil.

Terus aku coba perhatikan lagi ke belakang, dan melihat diriku dari helikopter view dengan menggabungkan puzzle-puzzle perjalananku di dunia tulis menulis. Tentang potensi yang manusia ini punya. Kamu tu berpotensi untuk bisa menekuni dunia tulis menulis, perihal tulisan kamu enak dibaca atau engga itu bisa diasah, perihal tulisanmu itu bisa menghasilkan duit atau engga itu bisa diusahakan.

Sekarang fokuslah menulis karena hal-hal sederhana berikut:

  • Menulis menjadi wujud kamu bersyukur dan mencintai diri sendiri karena Allah telah berikan nikmat berupa otak yang masih mampu berpikir, tangan yang masih bisa mengetik. Gunakan untuk berkarya.
  • Mempertajam pemikiran, supaya kamu tidak mudah pikun. Menata ulang pikiran yang tadinya berantakan dan menguatkan ingatan. Biarkan otak bekerja secara aktif, jangan biarkan otak hanya menerima informasi, biarkan dia mencerna - memikirkan, mempertanyakan, lalu memahami.
  • Jadikan pengalaman hidup kamu menjadi hikmah, mengambil pelajaran dari apa yang ada di sekitar kamu.
  • Manfaatkan waktu luang dengan cara yang bijak, menulis salah satu contohnya.
  • Kamu punya kekurangan ketika berbicara - sering belibet, suka lupa istilah di tengah jalan cerita. Jadi menulislah supaya bisa memperbaiki pola pikir lebih runtut dan teratur saat bercerita.

Mungkin kamu berpikir, siapa yang mau baca? karena kamu terbiasa dengan feedback sebagai tolak ukur kepuasanmu. Eits ga usah mikir dulu ke sana, menulislah karena kamu suka dan kamu mau. Katanya tulisan setiap orang itu akan menemukan pembacanya sendiri.

Apalagi sekarang kamu seorang guru, kamu punya tugas tidak hanya menyampaikan mata pelajaran yang kamu ampu. Tapi juga nilai-nilai kehidupan yang bermanfaat buat mereka. Gimana caranya? Ya kamu bisa memulai dengan menulis, menulis yang bermanfaat, self development misalnya. Sampaikan apa yang kamu tulis ke murid-murid kamu sebagai bahan dakwah kamu secara nyata. Sampaikan walau satu ayat, sampaikan walau cuma hal sederhana. Kadang yang sederhana itu bisa mengena.

So, mulai aja dulu, mulai aja lagi dan bertahanlah sampai Allah ambil semua yang kamu punya. Gunakan waktu mudamu, waktu sehatmu dan waktu luangmu dengan bijaksanan, jangan menyesali karena ia tidak pernah kembali.


Sending kindness,
Ratna